
name Jakiran Rayan Anggatra
nick name Jaki, Rayan, Ray
dob 11 November 2002
pronouns he/him
MBTI INFP
likes tidur, jajan, nonton.
dislike diatur-atur
not affiliated with the real Lee Taeyong from NCT 127. This account is strictly made for rolepayer purpose only
name : Lee Taeyong
dob: seoul, 1 Juli 1995
zodiac: cencer

Namaku Jaki, dan Joly adalah saudara kembarku. Kami lahir di Jakarta, keturunan Asia-Eropa dari Papa yang asli London dan Mama yang Jakarta banget. Wajah kami mirip, tapi sifat? Aku santai, tengil, dan suka jail, sementara Joly rapi, suka mengatur, dan emosinya setipis tisu. Dia lebih tua lima menit dariku—fakta yang selalu dia pakai untuk menang debat, meskipun aku sering pura-pura lupa.
Waktu SMP, Papa harus balik ke London karena urusan keluarga, dan Joly ikut untuk sekolah SMA di sana. Aku tetap di Jakarta sama Mama. Jarak jauh nggak bikin kami putus kontak. Malah, aku suka iseng kirim pesan, “Jol, kabut London bikin rambutmu kusut nggak?” Dia bales dengan nada sewot di voice note, dan aku cuma ketawa dengar dia ngomel dari seberang dunia. Kami jauh, tapi ikatan kembar itu nyata—aku tahu kapan dia bete, dan dia tahu kapan aku lagi males banget.
Setelah lulus kuliah dan kerja, Joly pulang ke Jakarta. Hari pertama dia datang, aku sengaja sembunyiin kunci koper dia biar dia panik. “Jaki! Kamu tuh nggak dewasa banget!” teriaknya sambil mukanya merah. Aku cuma cengengesan—lihat Joly marah-marah itu hiburan gratis, apalagi kalau dia mulai ngoceh pake logat campur London-Jakarta. Tapi lima menit kemudian, dia udah bantu aku bikin kopi sambil bilang, “Untung kamu adikku, kalau nggak, aku suruh Papa adopsi orang lain.”
Sekarang kami tinggal bareng lagi di rumah Mama, dan aku nggak pernah bosan jailin dia. Misalnya kemarin, aku sengaja taruh sendok berminyak di atas buku agendanya yang rapi. “Jaki! Ini limited edition, tahu nggak?!” bentaknya sambil matanya melotot. Aku kabur sambil ketawa, karena emosi Joly yang meledak-ledak itu lucu banget—cepat naik, cepat turun. Tapi jangan salah, meski aku suka bikin dia kesel, Joly kadang lebih dewasa dariku. Waktu aku patah hati pertama kali, dia yang diam-diam beliin aku bakso favorit sambil bilang, “Jangan cengeng, cowok kok lelet move on.”
Begitulah kami. Aku jail, Joly sewot, lalu baikan lagi. Dia ngomel soal kaosku yang nyasar ke lemari dia, aku bales dengan sengaja nyanyi sumbang biar dia makin naik darah. Tapi di balik itu, Joly adalah bagian dari aku. Dia yang kirim foto Big Ben pas aku kangen, aku yang jemput dia di bandara dengan kopi kesukaannya. Joly mungkin emosional dan cerewet, tapi dia saudara kembarku yang—mau nggak mau—selalu bikin hidupku lebih rame.
